Peran Mahasiswa Dalam Kehidupan Sehari - Hari

 A. Latar Belakang Masalah

Mahasiswa adalah generasi penerus bangsa yang diyakini mampu bersaing dan mengharumkan nama bangsa, juga mampu menyatukan serta menyampaikan pikiran dan hati nurani untuk memajukan bangsa. Mahasiswa juga dianggap sebagai kaum intelektual atau kaum cendekiawan oleh masyarakat. Gabungan antara kesadaran akan amanah dari rakyat untuk Indonesia yang lebih baik dan kesempatan menjadi kaum intelektuallah yang bisa menjadi kekuatan hebat untuk menjadikan Indonesia hebat. Selain itu mahasiswa adalah aset yang sangat berharga. Harapan tinggi suatu bangsa terhadap mahasiswa adalah menjadi generasi penerus yang memiliki loyalitas tinggi terhadap kemajuan bangsa. terutama dalam dunia pendidikan.

Bukan zamannya lagi mahasiswa untuk sekedar menjadi pelaku pasif atau menjadi penonton dari perubahan sosial yang sedang dan akan terjadi tetapi mahasiswa harus mewarnai perubahan tersebut dengan warna masyarakat yang akan dituju dari perubahan tersebut yaitu masyarakat yang adil dan makmur. Mahasiswa harus menjadi agen pemberdayaan setelah perubahan yang berperan dalam pembangunan fisik dan non fisik sebuah bangsa yang kemudian ditunjang dengan fungsi mahasiswa selanjutnya yaitu social control, kontrol budaya, kontrol masyarakat, dan kontrol individu sehingga menutup celah-celah adanya ketimpangan. Mahasiswa bukan sebagai pengamat dalam peran ini, namun mahasiswa juga dituntut sebagai pelaku dalam masyarakat, karena tidak bisa dipungkiri bahwa mahasiswa merupakan bagian masyarakat. Idealnya, mahasiswa menjadi panutan dalam masyarakat, berlandaskan dengan pengetahuannya, dengan tingkat pendidikannya, norma-norma yang berlaku disekitarnya, dan pola berpikirnya.

Sebagai seorang terpelajar dan bagian masyarakat, maka mahasiswa memiliki peran yang kompleks dan menyeluruh sehingga dikelompokkan dalam tiga fungsi yaitu agent of change, social control and iron stock. Dengan fungsi tersebut, tentu saja tidak dapat dipungkiri bagaimana peran besar yang diemban mahasiswa untuk mewujudkan perubahan bangsa. Ide dan pemikiran cerdas seorang mahasiswa mampu merubah paradigma yang berkembang dalam suatu kelompok dan menjadikannya terarah sesuai kepentingan bersama. Dan satu hal yang menjadi kebanggaan mahasiswa adalah semangat membara untuk melakukan sebuah perubahan. Mahasiswa sebagai calon pemimpin dan pembina pada masa depan ditantang untuk memperlihatkan kemampuan untuk memerankan peran itu. Mahasiswa sebagai iron stock berarti mahasiswa seorang calon pemimpin bangsa masa depan, menggantikan generasi yang telah ada dan melanjutkan tongkat estafet pembangunan dan perubahan. Untuk menjadi iron stock tidak cukup mahasiswa hanya memupuk diri dengan ilmu spesifik saja, perlu adanya soft skill lain yang harus dimiliki mahasiswa seperti kepemimpinan, kemampuan memposisiskan diri, interaksi lintas generasi dan sensitivitas yang tinggi

Maka komplekslah peran mahasiswa itu sebagai pembelajar sekaligus pemberdaya yang ditopang dalam tiga peran: agent of change, social control, dan iron stock. Hingga suatu saat nanti, mahasiswa memang benar-benar mampu memberikan kontribusi yang jelas kepada masyarakat serta mampu membangun kemajuan dan kemakmuran bangsa dan negara Indonesia tercinta. Kontribusi mahasiswa kepada bangsa pun banyak sekali bentuknya. Prestasi akademik dan non-akademik akan lebih bermakna bagi masyarakat Indonesia. Seperti prestasi di ajang internasional yang membanggakan bangsa, atau juga peran-peran lain yang langsung berefek pada perbaikan masyarakat. Hanya perlu mengarahkan mahasiswa saja untuk menyalurkan kepedulian mereka dalam jalur yang benar. Maka kemudian kita akan menyaksikan bahwa bangsa ini melangkah nyata menuju puncak kejayaannya, dengan mahasiswa sebagai penggeraknya.

Pada kenyataannya, mahasiswa zaman sekarang cenderung mengagung-agungkan kesenangan dan kenikmatan dalam menjalani hidup. Kepedulian mahasiswa terhadap lingkungan sekitar terlupakan dan tergantikan dengan kenikmatan sesaat. Fenomena hura-hura oriented kerap ditemui di kampus. Semakin jarang terdengar percakapan akademis di lingkungan mahasiswa. Percakapan mereka lebih didominasi masalah fashion, sinetron dan film terbaru, serta aneka bentuk hedonisme lainnya. Sebagian besar dari mereka, entah mahasiswa atau mahasiswi, menghabiskan waktu dan uangnya untuk berburu kesenangan di tempat-tempat hiburan. Banyak kematian kelompok-kelompok diskusi dikalangan mahasiswa. Mahasiswa lebih suka memberikan apresiasi pada kegiatan hiburan ketimbang aksi seminar dan penelitian. Jika ada pertunjukan musik di kampus, misalnya di auditorium, kawasan itu sesak oleh mahasiswa. Tetapi menjadi sepi saat berlangsung kegiatan akademik seperti seminar dan diskusi publik lainnya. Setiap malam kawasan kampus ramai bukan karena kegiatan akademik, namun oleh gerombolan mahasiswa yang begadang hingga dini hari untuk kegiatan yang tidak jelas. Belum lagi perilaku dugemania dan seks bebas yang sekarang kian menjadi-jadi dan dianggap sebagai “kewajaran” bagi mahasiswa. Fenomena ini menunjukkan rapuhnya mental generasi muda. (Puariesthaufani, 2011) serta (Indra Oejank, 2010)


Pengaruh gaya hidup hedonis sangat luar biasa dahsyatnya pada segala segi kehidupan, termasuk pada dunia pendidikan tinggi. Akibatnya, generasi muda mulai mengesampingkan spiritnya untuk terus meningkatkan kualitas diri sebagai generasi yang nantinya bertanggungjawab terhadap negara dan bangsa. Hedonisme menjadikan mahasiswa krisis karakter, sehingga tak mampu menjalankan predikatnya sebagai agent of social change dan agent of control.

Menurut Jibi (2011), Masrukhi menilai saat ini banyak mahasiswa yang lebih berorientasi pada gaya hidup. Ada lima wajah mahasiswa yang nampak dalam realitas diri dan sosial. Wajah pertama mahasiswa idealis-konfrontatif yang cenderung aktif menentang kemapanan seperti demonstrasi. Kedua mahasiswa idealis-realistis, lebih kooperatif dalam perjuangan menentang kemapanan. Ketiga, mahasiswa opportunis, yang cenderung mendukung pemerintah yang tengah berkuasa, kemudian mahasiswa professional, yakni mahasiswa yang hanya berorientasi pada kuliah atau belajar. Empat wajah mahasiswa ini ternyata hanya ada sekitar 10 persen, selebihnya adalah wajah kelima, yakni mahasiswa rekreatif
yang berorientasi pada gaya hidup glamor dan bersenang-senang. Jumlah mahasiswa di Indonesia pada 2010 mencapai sekitar lima juta orang, baik perguruan tinggi negeri, swasta, universitas terbuka, perguruan tinggi kedinasan dan perguruan tinggi agama. Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai sekitar 237 juta orang, maka jumlah mahasiswa ini hanya berada pada kisaran 2,4 persen. Jumlahnya memang relatif kecil. Mahasiswa yang memiliki pandangan idealis memiliki persentase yang kecil dibandingkan kelompok lain, namun kelima wajah mahasiswa itu sama-sama memiliki energi besar untuk bersatu-padu. Energi besar yang disebut collective consciousness (kesadaran kolektif) inilah yang menyebabkan gagasan, opini dari sekelompok kecil mahasiswa, akan menjadi gagasan besar mahasiswa dalam waktu cepat. Kesadaran kolektif yang dimiliki kalangan mahasiswa itu sudah terbukti dari sejarah perjalanan bangsa yang mencatat gerakan mahasiswa beberapa kali berhasil melakukan perubahan besar, misal reformasi. Karena itu, energi besar yang dimiliki mahasiswa harus mampu diberdayakan secara cermat oleh kalangan perguruan tinggi, untuk melakukan internalisasi nilai.

Hasil survey yang telah dilakukan di Matahari Singosaren Solo pada tanggal 17 September 2012 didapatkan data bahwa, mahasiswi berlomba-lomba membeli barang-barang yang bermerek untuk menunjang gaya hidupnya. Contohnya, mahasiswi membeli berbagai macam barang seperti sepatu, tas, dan pakaian, dll. Mahasiswi membeli barang-barang dengan harga yang berkisar Rp 100.000,00 – Rp 200.000,00, termasuk harga-harga diskon mereka juga memburunya.
Dalam mengembangkan perannya, kaum muda Indonesia perlu mengasah kemampuan reflektif dan kebiasaan bertindak efektif. Perubahan hanya dapat dilakukan karena adanya agenda refleksi (reflection) dan aksi (action) secara sekaligus. Daya refleksi kita bangun berdasarkan bacaan baik dalam arti fisik melalui buku, bacaan virtual melalui dukungan teknologi informasi maupun bacaan kehidupan melalui pergaulan dan pengalaman di tengah masyarakat. Makin luas dan mendalam sumber-sumber bacaan dan daya serap informasi yang kita terima, makin luas dan mendalam pula daya refleksi yang berhasil kita asah. Karena itu, faktor pendidikan dan pembelajaran menjadi sangat penting untuk ditekuni oleh setiap anak bangsa, terutama anak-anak muda masa kini.

Mahasiswa adalah aset utama dari sebuah bangsa yang tidak dipisahkan dalam hal apapun. Mahasiswa merupakan generasi terdidik, diharapkan mempu membuat perubahan yang jauh lebih baik bagi masyarakat luas.  Sehingga perubahan itu dapat benar-benar terjadi, dan mampu dirasakan manfaatnya bagi masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman lebih dalam tentang Peran Mahasiswa dalam Masyarakat. Antara lain:
1. Peran Moral, mahasiswa memiliki kesempatan untuk berkarya secara bebas melalui berbagai kegiatan didalam kampusnya masing-masing. Mahasiswa adalah individu yang seharusnya sudah mampu membedakan hal yang baik dan buruk. Oleh karena itu, mahasiswa dituntut agar mempu memiliki akhlak yang baik dan mampu bertanggung jawab terhadap segala hal yang telah dilakukannya dalam kehidupan masyarakat.
2. Peran Sosial, mahasiswa memiliki kesempatan untuk terus melatih diri dalam kehidupan sosial agar kelak mereka mampu menjalankan kehidupan bermasyarakat dengan baik. Mahasiswa adalah individu yang seharusnya sudah mampu bersosialilasi dengan baik. Oleh karena itu, segala hal yang dilakukannya diharapkan memberikan dampak positif terhadap segala permasalahan kehidupan sosial dalam masyarakat.
3. Peran Intelektual, mahasiswa memiliki kesempatan untuk mengembangkan potensi diri sesuai dengan kemampuannya. Mahasiswa adalah individu yang sudah seharusnya memiliki tingkat pengetahuan yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Oleh karena itu, mahasiswa dituntut agar mampu memberikan solusi atas banyaknya permasalahan yang terjadi dalam masyarakat melalui penerapan ilmu pengetahuan yang telah dipelajarinya.
Masih belum jelas?
Sebagai mahasiswa, mahasiswa memiliki peran yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Ada banyak hal penting yang harus dipahami agar mereka tidak hanya menjadi sekedar mahasiswa biasa, namun dapat menjadi mahasiswa yang luar biasa hebat. Selain peran diatas, mahasiswa juga memiliki peran yang jauh lebih kompleks, antara lain:
1. Direct of Change, mahasiswa diharapkan mampu menjadi penggerak perubahan yang secara langsung dapat dirasakan manfaatnya melalui pendidikan seperti yang disampaikan oleh Nelson Mandela: “Pendidikan adalah senjata paling mematikan di dunia, karena dengan itu Anda dapat mengubah dunia”. Mari kita melihat masalalu, dimana ada begitu banyak aktivis mahasiswa dari seluruh Indonesia yang bersatu untuk menurunkan Presiden Soeharto, dan mereka berhasil melakukannya. Mahasiswa sudah seharusnya dapat berkontribusi secara langsung kepada masyarakat, dengan cara yang benar tentunya. Oleh karena itu, jadilah mahasiswa yang aktif untuk sama-sama membangun negeri menuju kehidupan yang jauh lebih baik.
2. Agent Of Change, mahasiswa diharapkan mampu menghadirkan perubahan yang lebih baik melalui berbagai penelitiannya sebagai jawaban atas berbagai permasalahan kehidupan masyarakat. Ilmu yang diajarkan tidak boleh hanya sekedar dipelajari saja, namun kembangkan semua itu sebagai kontribusi kepada masyarakat. Seperti yang disampaikan oleh Anies Rasyid Baswedan, Ph.D., dalam pesan untuk mahasiswa baru “Anda disebut maha atas kesiswaan anda. Anda punya tanggung jawab yang jauh lebih besar dari anak-anak muda lainnya. Di Indonesia ada jutaan anak-anak masuk SD, namun hanya ratusan ribu yang hari ini bisa kuliah. Itu artinya anda berbeda dari yang lain. Anda adalah sekelompok anak-anak muda yang punya kesempatan, untuk maju mengembangkan diri, meraih masa depan, bukan hanya untuk anda sendiri. Namun untuk kemajuan Republik, untuk kemajuan bangsa”.
3. Iron Stock, mahasiswa diharapkan menjadi sumber semangat untuk menggerakkan seluruh elemen masyarakat dalam membuat perubahan yang lebih baik. Melalui jumlah Sumber Daya Manusia yang banyak, mahasiswa dituntut untuk tidak hanya berdiam diri hanya untuk melihat permasalahan yang sedang terjadi. Mahasiswa sudah seharusnya kritis dan tanggap terhadap berbagai permasalahan hidup, dan segera bertindak secepat mungkin. Seperti yang diriwayatkan oleh  Abu Na’im: “Pengetahuan yang benar tidak diukur dari seberapa banyak Anda menghafal dan seberapa banyak yang mampu Anda jelaskan, melainkan, pengetahuan yang benar adalah ekspresi kesalehan (melindungi diri dari apa yang Allah larang dan bertindak atas apa yang Allah amanatkan)”.
4. Moral Force, mahasiswa diharapkan mampu memiliki akhlak yang baik sebagai contoh kepada masyarakat. Sudah seharusnya mahasiswa mampu membedakan yang benar maupun salah melalui ilmu yang telah dipelajarinya. Oleh karena itu, jadilah mahasiswa yang layak ditiru sebagai individu berintelektual dan berakhlakul karimah sebagaimana yang disampaikan oleh Rasullullah SAW: “Jika seseorang bepergian dengan tujuan mencari ilmu, maka Allah akan menjadikan perjalanannya seperti perjalanan menuju surga”.
5. Social Control, mahasiswa diharapkan mampu melakukan kontrol sosial secara menyeluruh melalui keterbukaan terhadap masyarakat. Mahasiswa sudah seharusnya mampu memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat sekitarnya melalui edukasi yang berkualitas tinggi. Oleh karena itu, jadilah mahasiswa yang mampu berpikir secara kritis, logis dan dinamis dalam mengikuti perkembangan sosial masyarakat serta mampu membuat perubahan. Sebagaimana yang disampaikan oleh Ali Bin Abi Thalib RA. ”Engkau berpikir tentang dirimu sebagai seonggok materi semata, padahal di dalam dirimu tersimpan kekuatan tak terbatas” .



Daftar Pustaka
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kumpulan Soal UAS Sistem Basis Data 1

Pengenalan Desain Grafis

PENGENALAN ANIMASI